Tuesday, 6 June 2017

22nd Birthday Post



Looking back, I realized that I've been through so much good things (bad ones also, but I don't count it) through the years. Almost 4 years ago when I was getting the job I am on right now without even having any degree. Blessed? I totally am.

I never take concern on such thing as coincidence. That's just doesn't make sense to override God's majesty on every levels and aspects of our life. What I do believe is that this universe is not ruling by itself. It is what it is today because God has allowed it to happen that certain way.

The past few years I have been meeting A LOT of cool people who really are not just amazing but also inspiring. And by that somehow myself had assured me that the coolness I got from them must be transmitted into other people too. Like an endless ripple.

See, the thing of being 20-ish is that you feel like you're already mature enough but inside you also couldn't refrain the inner child who wants to keep playing and singing all the time. But it's fun tho, actually. At least for me. Because somehow you need the balance.



Ah.....
What can I say?
There's no need to complain. Because the more you complain the lesser you will see the beauty of your life. Which is not good, for me. What most important for now is being grateful at its best and in constant. Being born Muslim is one of the greatest blessing from Allah for me. And now I'm 22, I can tell you this religion that I take as my faith isn't inheritance from my family but rather is my choice as one true human being with healthy physic and mind. You got my point, don't you?

I know this post maybe kind of messy because I have no point in it but I just want to mark this day as the day that I must increase my faith and my gratefulness (shukr) for today is also the 11th day of Ramadhan 2017.

Fuht..
How quick time has passed.

Here's me being so happy few weeks prior to me turning 22 :


Friday, 24 March 2017

S E N J A : You've Taken Me From Me



Jika suatu saat kuungkapkan cinta padamu
Biarkanlah aku menjadi seorang pemuja
Yang berlutut memegang bunga didepan kekasihnya

Jika suatu saat kuungkapkan cinta padamu
Tak kau reguk cinta itu
Biarkanlah aku menjadi tajuk peneduh
Bagi jiwa indahmu yang rapuh

Jika waktunya tiba
Matamu terbuka akan cintaku yang nyata
Biarkanlah aku menjadi musim
Yang meniupkan angin hangat kedalam tubuhmu
Bersama aroma jutaan bunga yang kubawa dari separuh dunia

Jika akhirnya saat itu tiba...
Kan ku hentikan sajak ini
Dan kuubah
Menjadi tanah yang menumbuhkan
Bebungaan indah di tamanmu

Saturday, 11 February 2017

S E N J A : I'm being tied up



Being in constant feeling of love could be very tremendous, and for myself, it would create such a vigorous power that won't let me to not think about you. The power that forces me to keep you linger. It never allows me to ignore you. I can't ignore you. That power impairs me. It has weakening me. Or is it you?

Dear my love,
I'm like a prisoner sitting on a throne, being tied up and watch people laughing at me alone. I'm tormented, and frustrated. But still, I can't deny the fact that I love how you tortured me without even touched me.

Thursday, 9 February 2017

S E N J A : You are...


I stopped searching for once then 
I realize
this whole time
You have been inside of me.

Not that I am crazy 
or worse, in love with you 
But, 
You truly are the only
object that
mesmerized me.

Monday, 9 January 2017

Duta BUMN 2014 : Sudah Layu Sebelum Berkembang (Part 1)


Well... 
Yeah tulisan ini memang sangat terlambat untuk dibagikan sekarang, tapiiiiiiii masih tidak akan kadaluarsa kok. Better late than never, right? Aku akan berbagi pengalamanku menjadi salah satu peserta di ajang bergengsi Duta BUMN 2014 dan aku berharap semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua. Karena ternyata, menjadi Duta BUMN 2014 ini merupakan pengalaman yang dapat dikatakan life-changing buatku. Walaupun hanya seminggu mengikuti lomba ini, namun manfaat yang kudapat melekat hingga lebih dari 2 tahun. I'm not being overly exaggerated, but this, really strikes me. 

Okay, let's started with knowing me. 

Aku Fathyah, 21 tahun (saat ini), karyawan di BUMN Kehutanan terbesar di Indonesia dan juga seorang mahasiswa jurusan Administrasi Publik konsentrasi Manajemen Keuangan Negara semester 6 (berat banget yah kayanya). Dua tahun yang lalu, tepatnya pada akhir tahun 2014 bulan November, seorang kolega menawarkanku untuk menjadi Duta Perum Perhutani dan mewakili perusahaan di ajang Duta BUMN 2014. Duta BUMN itu sendiri merupakan salah satu cabang lomba dari kegiatan PORSENI BUMN (Pekan Olahraga dan Seni BUMN) yang diadakan setiap tahun oleh Kementerian BUMN dan konsorsium BUMN di Indonesia. Pada saat itu pun aku telah ditunjuk sebagai panitia yang mengurusi peserta lomba Tarian Daerah dari kantorku, namun tiba-tiba saja aku ditawarkan untuk ikut lomba Duta BUMN tersebut. Jadi memang, sudah sibuk menjadi koordinator Tarian Daerah, ditambah pula dengan kesibukan untuk mempersiapkan diri menjadi representatif perusahaan di ajang bergengsi tersebut. 
Pada tahun itu merupakan tahun kedua Perhutani mengikuti ajang Duta BUMN (yang baru dimulai pada tahun 2011, namun Perhutani baru ikut bergabung pada tahun 2013). So yeah... Duta BUMN saat itu masih cukup asing buatku. A glimpse I catch about the competition adalah lomba itu sejenis beauty pageant mirip Abang None gitu. Ketika aku diminta untuk menjadi perwakilan perusahaan untuk maju di ajang tersebut, aku hanya senyum-senyum manja dan tidak jelas karena memang aku tidak tahu apa-apa tentang Duta BUMN tersebut. Namun, karena basically aku adalah tipe orang yang aktif dan curious akan mencoba hal-hal baru, aku mengiyakan tawaran tersebut. 
Idealnya, setiap perusahaan sebaiknya menyeleksi beberapa kandidat untuk dijadikan perwakilan dari perusahaannya masing-masing. Seperti mengadakan seleksi in-house Duta mereka masing-masing. Agar mereka tidak kaget dengan kegiatan pada saat lomba dan untuk memastikan bahwa kandidat yang dikirimkan bukan merupakan orang yang 'abal-abal'. Namun, pada saat itu kondisi di perusahaanku (not my company, but company where I work) tidak seperti itu. Perlu diingat bahwa persyaratan untuk bisa mengikuti Duta BUMN adalah : (1) merupakan karyawan di salah satu BUMN dan dibuktikan dengan fotocopy SK; dan (2) berusia maksimal 30 tahun pada saat mengikuti lomba. Dan jumlah pegawai muda (30 tahun kebawah) di Perhutani pada saat itu terbilang sangat sedikit sekali.

Lalu, bagaimana denganku dan teman-teman seangkatanku?

Well... FYI ya teman-teman, aku masuk ke Perhutani sebagai lulusan SMK pun begitu dengan teman-teman seangkatanku. While as Duta BUMN itu pesertanya merupakan lulusan S1, S2, maupun yang sedang melanjutkan S3. What????? Siapa yang bisa larang kalau saat itu aku tidak pede dengan kemampuan diri sendiri (dan teman seangkatanku). In addition to that, pada saat itu aku baru masuk kuliah semester 1 yang notabene mata kuliah yang dipelajari masih belum jauh-jauh dari pelajaran di jaman SMK sehingga dapat dipastikan bahwa aku sudah akan kalah duluan sebelum bertanding bahkan sebelum tau lomba tersebut bagaimana dan siapa peserta lainnya. 
Long story short, dua minggu kemudian aku dan kolega yang menawariku (yang kemudian menjadi manajerku dan juga peserta Duta BUMN tahun lalu) telah selesai mempersiapkan segala keperluan mulai dari membeli baju (business attire, casual attire, sporty outfit, dan lainnya), sepatu, perlengkapan make up, tas baru, latihan memperkenalkan diri, latihan presentasi, dan persiapan mental sejenisnya. Kenapa aku harus beli baru barang-barang tersebut? Karena ternyata barang-barang pribadi sejenis milikku tidak cukup pantas untuk dibawa tampil ke ajang tersebut hehehe. Sehingga barang-barang yang dibeli, aku upgrade jenis, merk dan harganya. Lagian, biaya untuk keperluan tersebut juga bukan dari kantongku sendiri jadi aku tidak perlu berpikir banyak. Hehehe lagi. 
Tibalah hari perlombaan. Kegiatan lomba dimulai pada hari Senin 1 Desember 2014 dan berakhir pada Jumat 5 Desember 2014 dengan sistem karantina selama 4 hari. Oh ya, aku belum cerita tentang partner Duta-ku. Namanya adalah Mas Bagus Suripto, dari kantor cabang di Jogjakarta. Pada saat lomba ia sedang melanjutkan studi S3 (yes, S3 guys-disandingkan dengan aku yang cuma lulusan SMK dan baru kuliah semester 1). Jarak umur kami cukup jauh lho pada saat itu. Bagaimana tidak, dua tahun yang lalu berarti aku masih 19 tahun (oh iya aku juga merupakan Duta BUMN termuda sepanjang sejarah per-Duta BUMN-an dan sampai saat ini loh dan aku malu sebenarnya) dan Mas bagus itu sudah 30 tahun pada saat itu. 11 tahun jarak umur kami hihihi. Ternyata aku baru sadar kalau umur kami berbeda cukup jauh, tapi bukan itu fokusnya sekarang. 
Pada hari Senin aku berangkat ke Kementerian BUMN ditemani koper yang padat sebagai bekal karantina selama 4 hari kedepan (walau cuma 4 hari tapi satu hari kami bisa berganti kostum 2 kali). Aku naik taksi sendiri dan sudah janjian dengan Mas Bagus untuk langsung bertemu disana saja. Sampai di lantai 11 Kementerian BUMN, aku keluar lift dan langsung meliht beberapa peserta lain yang sejenak membuatku terpana. They all are in suit and tie and blazer and heels and make up and hair do and wow!!!! Dan aku hanya mengenakan seragam harian kantorku saja. Aku selalu terpukau berada langsung di dekat orang-orang berjas dan berblazer karena menurutku suasana yang tercipta jadi lebih eksklusif dan misterius. Tahu diri sebagai yang paling muda dan dengan pengetahuan dan kemampuan masih dibawah mereka, aku hanya diam saja dan berusaha mencari posisi aman dimana aku dapat menikmati diri sendiri. Tapi tiba-tiba ada yang mengajakku kenalan (ciyeeee). Aku tidak akan cerita tokoh lain disini guys tapi cukup gambarannya saja ya. Akhirnya, kami terlibat perbincangan ringan dan sedikit saling sharing tentang core business perusahaan masing-masing.
Later, para peserta lain mulai ramai berdatangan dan acara pembukaan pun dimulai. Sebelumnya telah dibagikan selempang yang bertuliskan 'Duta (nama perusahaan)' ke masing-masing peserta dan itu adalah pertama kalinya aku memakai selempang dan aku sungguh merasa terhormat dan bangga walaupun perjuangan mendapatkannya tidak seberat itu hehehe. Kemudian acara dilanjut dengan sesi perkenalan dan sharing session dengan beberapa tokoh hebat dari lingkup Kementerian BUMN. Jujur saja, karena pada waktu itu aku baru kuliah semester 1, jadi minatku pada materi berbau birokrasi, bisnis dan organisasi (which is apa yang menjadi mayoritas dari materi-materi tersebut) masih sangat minim dan yang bisa kulakukan selama pemateri berbicara hanyalah menahan kantuk dan berusaha agar tidak ada orang lain yang tahu. Oh what a mess I was. 

Namun, satu hal yang aku belum lupa sampai sekarang yaitu adalah ketika Duta dari salah satu BUMN Perbankan maju kedepan untuk memperkenalkan diri. Dia datang dengan hairdo khas ala bank-nya dan business attire dan oh my she is so elegant. But also a bit funny she is at the same time karena 'konde'nya (atau french bun/whatever) yang menjulang diatas kepalanya. But she's still pretty, tho. Honestly. Ditambah dia dengan sangat pedenya memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris (yang menurutku masih slightly terbata-bata) dan partner dutanya menggunakan Bahasa Jepang. Namun memang hal itu berhasil menarik perhatian kami semua, dan apparently itupun menjadi ice-breaker dan menambah seru suasana.

Kemudian tibalah giliranku untuk memperkenalkan diri. Well... Nothing special in my introduction. Walaupun awalnya aku sudah mempersiapkan beberapa jokes yang (mungkin) bisa memancing tawa teman-teman tapi karena takut jadi garing, I just stayed in the line. Berbicara didepan umum buatku bukanlah sesuatu yang baru atau menakutkan. Terlebih bila aku sudah menguasai materi yang harus aku bawakan. Namun, pada saat itu aku tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa mereka (peserta Duta yang lain) semua adalah orang-orang yang sudah pasti lebih hebat dariku dan aku ini bukan apa-apa bagi mereka. Makanya, most of the time at the quarantine aku lebih banyak diam dan hanya mempelajari situasi.

Perkenalan dan sharing session berakhir, kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan sholat zhuhur baru kemudian kami bertolak ke lokasi karantina, yaitu Pertamina University Simprug. Ada 3 bus yang mengangkut kami ke Simprug. Dua bus untuk penumpang dan 1 bus khusus untuk barang-barang kami. Ketika aku menunggu untuk masuk kedalam bus, tiba-tiba seorang peserta lain mengajakku ngobrol dan ia mengatakan, "Mba ini mirip Siti Nurhaliza ya".
Well... Sejujurnya aku sudah sering menerima (pujian) itu sehingga spontan aku membalasnya dengan candaan (sambil tertawa), "Mas adalah orang ke 1.834 yang bilang itu ke aku". Kemudian, hening. Krik krik. Krik krik. Nobody was laughing. Damn! Aku pikir hal itu lucu tapi ternyata tidak ada yang tertawa padahal aku yakin beberapa peserta lain mendengar obrolan kami pun termasuk lawan bicaraku tadi. Sumpah, gue garing banget waktu itu.


(bersambung ke part 2 ya)

Saturday, 7 January 2017

Is It Enough For You?


Is it enough for you ?
Is it enough for you to talk to me ?
Is it enough for you not to meet me ?
Is it enough for you to pray and not doing anything ?
Is it enough for you only to see and not feel me ?
Look at me, please!
I am here.

And I don't play with my feeling
So you neither and it's not a fling
I reflect you but
You neglect me

Please...

Recall those memories
Replay that once again
Re-say the things you used to tell me
When you think you're in love with me
When you say that I am lovely
When you smile while you're calling me
When you're away but still...
Coming back to me
Is it enough for you ?
Is it ?



Jakarta, Midnight of 8th January 2017

Friday, 30 December 2016

New Year Resolutions : Things To Be Concerned Before You Set Up Yearly Goals



The New Year of 2017 is approaching us and for most people, it is the perfect time to construct some objectives to be achieved for the next year. Apparently, it doesn't have to be that way. You don't need to pass the new year's eve to finally starting to work on your new goals. Everyday is a new day and a total new chance for you, for me and for us to arrange new aims and attempts to achieve it. Even though most people are willingly wait for the year-shifting moment to start making a big milestone of their life-accomplishments, you don't have to.

So now here I am about to deliver some things that you could (or must) be concerned about before finally writing the list, they are :

Essential : God always comes before anything else. Juxtapose ourselves towards God in order to have a happy life. It is He who created us and it is He who knows the best thing for us and the perfect time to have it. And do you know how to get everything you want in this life? Bribe the life's owner.

Improve your connection with Allah (Hablu Min Allah) by never miss the 5 times prayer, or even consistently do Sunnah prayer once in a day, or starting to do Tahajjud by once in a week, then increase it to twice in a week, and so on. One tip from me that I did in the past to manifest this is by making a 'control card' which contains checkbox of things that must be done daily such as how many times we have to recite Quran and other activities. By doing this consistently in hope to be closer to God In Shaa Allah we will feel the positive change in our life.
Next, before doing self-development and skill enhancement which will be focusing on our positive features, it's better to mitigate our shortcomings first that is (we know for sure) annoying for some people. Nobody's perfect, right? Imagine yourself as a glass. I equate the dirt as our self shortcomings. Every time you learn means you fill the glass with water. But who can guarantee that the glass is always clean? 

Also ladies, remember that our tongue can be very poisonous to others. Realize that sometimes we say things that hurtful for others. We may think that what we say means nothing but some people may be sensitive to us. So please, I encourage you and myself to wear hijab, not just hijab for the head but also hijab for the tongue. Don't say mean things. You should rather be quiet than speak bad about or to someone. 

And the best advice from me for you guys who wants to set up some goals is to not invest too much on unimportant things and unimportant person. Avoid fake friends. Invest your own self. Become a better person, be a better friend. 

Prepare yourself to be what you want to be. For my sisters out there, please prepare yourself to be a good wife. This year you must have that wife-materials in you! Just prepare yourself with qualities that you want your partner (to-be) have. Because, rather than focusing on seeking the perfect candidates, why don't try to BE the perfect one?