Thursday, 23 November 2017

S E N J A : Aku Kecanduan Kamu (Addicted To You)



Dua sekar ku kuntum kalbu
Lega gelora menyibak
Irisan permata memuncak
Ahh
Aku rindu kamu


Awan hitam tertarik pelan
Tak ingin pulang
Meliuk merangkul rembulan
Gemintang menjadi kawan
Hmm
Aku,
Kecanduan kamu

Friday, 3 November 2017

London-Escape : Transit in Viet Nam



Jadi post ini mestinya gw tulis dari dua minggu yang lalu, langsung begitu gw balik dari London. Tapi karena jetlag parah sampe 4 hari (maklum kan baru pertama kali ke luar negeri) gw bahkan sampe bolos kerja gara-gara ga kebangun pagi buat ngantor, jadinya procrastination at its finest, again. Oh what a mess was I. Okay, jadi gw mulai dongeng gw dari bagian paling awal yaa...

Siapin kuaci karena ini akan jadi postingan yang cukup panjang (kalo jadi).

Jum'at tanggal 6 Oktober 2017 pukul 1.45 siang gw bertolak dari Jakarta menuju Ho Chi Minh dengan Vietnam Airlines. Perjalanan tersebut memakan waktu selama 3 jam dan gw sampe di Ho Chi Minh sekitar pukul 5 sore. Jujur aja, that was my first flight during this year. Dan somehow gw udah kangen banget sama aroma dan suasana bandara (weird ya?). Disamping perasaan nervous or butterfly in the stomach berkepanjangan ini, gw dari awal udah constantly excited karena akhirnya gw bisa kabur dari negara ini. Tapi, nasib malang menimpa gw. Ga ada penumpang lain yang duduk disamping gw di dalam pesawat. Di row gw cuma gw doang dan itu rasanya cukup menyedihkan karena ga ada orang yang bisa diajak ngobrol dan curcol. Tapi yah judulnya dari awal kan emang "Solo Travel", so I couldn't complain

Tuh kosong kan??
Pasang emot sedih dulu :( 

Sebagai bagian dari Sky Team, menurut gw armada Vietnam Airlines punya pelayanan yang cukup memuaskan. Hampir sama dengan Garuda Indonesia, ada layar hiburan dan sajian makan siang dan seragam pramugarinya juga sopan. Berbalut celana panjang warna putih dan tunik lengan panjang warna hijau toska dengan kerah cina. So elegant and modest. Hidangannya cukup lengkap, ada roti (kayanya buat appetizer deh), main course (selalu ada dua pilihan, pork dan non pork), dessert, dan pencuci mulut (bisa salad buah, sayur, atau yoghurt). Di saladnya juga ada daging, dan karena gw ga yakin itu daging apa jadi gw ga sentuh dagingnya sama sekali. Play safe gitu hihihi.


In-flight meals by Vietnam Airlines

Karena waktu itu di atas suhunya cukup panas, matahari juga cukup terik, jadinya gw lapar dan ga sabar buat makan. Beruntung gw pilih window seat, gw bisa menyantap lunch sambil melihat keluar jendela menikmati benderang mentari menyinari bumi yang tertutup awan putih (halahh). Begitu selesai makan, gw utak-atik layar di depan gw. Cari film yang sesuai mood dan bagus. Tapi karena gw tiba-tiba pusing jadinya gw cuma diem liat keluar jendela, amazed by what I saw : basically just sky and thick clouds dan ga terasa gw mulai ngantuk dan ketiduran. Setengah jam menjelang landing, gw kebangun dan bingung mau ngapain. Jadinya liat keluar jendela lagi, sampai pemandangan diluar jendela berubah dari awan ke gedung-gedung dan pemukiman di kota Ho Chi Minh. Gw seneng ketika liat ini :

It says "Welcome to Vietnam"

Ketika gw baca tulisan welcome itu, it feels like someone is welcoming me all the way thru, hahaha. Whatever, tapi yang pasti waktu itu gw pikir gw udah resmi berada di luar negeri sekarang. Time to enjoy the show.

Begitu mendarat, gw langsung cari tempat duduk dan sekalian cek hp mau telpon mamak. Karena simcard gw Telkomsel, salah satu privilege-nya yaitu fitur roaming. Walaupun gw ga pasang paket roaming, tapi seketika begitu sampai di Viet Nam provider simcard gw berubah nama ke simcard lokal. Dan Alhamdulillah masih ada sisa-sisa pulsa buat telpon mamak waktu itu. Pas lagi duduk, tiba-tiba dua orang wanita lewat depan gw dan gw senyumin. Gw inget bahwa gw dan mba-mba itu ternyata satu pesawat, dan mereka duduk persis di depan gw. Bahkan pas mau boarding ke pesawat pun, mereka antri persis di depan gw. But no talk before that. Begitu mereka lewat, gw senyumin, dan akhirnya terjadilah percakapan itu. Akhirnya mereka duduk di kursi sebelah gw trus cerita-cerita ternyata mereka transit mau ke Jepang besok paginya jam 6. Artinya waktu transit mereka lebih lama dari gw. Gw cuma transit 7 jam di Ho Chi Minh, tapi gw udah niatin mau jalan-jalan ke luar bandaranya biar ngerasain suasana Viet Nam. Awalnya mba-mba itu (nanti gw kenalin nama dan akun instagram mereka yak) mereka rencananya cuma mau jalan kaki dari bandara ke mall yang ada diseberang, sambil nyari Starbucks buat koleksi tumbler. Tapi karena gw udah janjian sama cowo Viet Nam dan dia nawarin ke gw mau anterin gw buat muter-muter sebentar sebelum penerbangan gw ke London, akhirnya gw ajakin mba-mba itu gabung dan kami keluar bandara.

Setelah 'lolos' imigrasi, gw langsung ke money changer, tukar USD ke Viet Nam Dong (VND). Gw ga yakin mereka terima rupiah atau ga, tapi yang pasti lebih aman kemana-mana bawa USD dulu karena pasti laku. Dan gw cukup kaget ternyata kurs mereka lebih rendah dari kita, 1 USD mereka bisa 20,000 VND. Setelah tukar uang, langsung keluar mau ketemu dengan lelaki Viet Nam itu. Eh baru keluar pintu dia udah langsung samperin gw dan gw sempet kaget juga. Dia sebelumnya bilang di whatsapp kalo dia bawa payung (biar gw gampang nandain dia orangnya yang mana), dan emang beneran dia bawa payung hahaha. Payung yang gede dan panjang yang ujungnya kayu bengkok gitu dan ga bisa dilipat. Payung orang tua gitu lah hahaha. Pas gw tanya kenapa dia bawa payung, katanya buat jaga-jaga kalau dijalan hujan. Oh ya awalnya dia nawarin gw buat jalan-jalan pakai motornya dia. Tapi ternyata tim kami bertambah dan jadilah pake Grab buat jalan-jalannya.

Alright. Sekarang perkenalan dulu ya. Biar kalian tau dan makin sayang sama mereka, teman sejawat gw dikala transit di Viet Nam, ehehe. Awalnya kami cuma berempat : gw, lelaki Vietnam itu, dan mba-mba itu. Trus ditengah jalan ada seorang pria yang ngajakin gw ketemuan, akhirnya tim bertambah jadi 5 orang. Jadi ada 2 pria, dan 3 wanita.

'Lelaki Vietnam itu', namanya Quang. Gw kenal dia lewat Couchsurfing, setelah gw publish rencana trip gw, dia nawarin untuk jadi guide (all free loh ya, karena Couchsurfing itu berbasis kekeluargaan, bukan untuk komersil). Dan ternyata dia kerja di bandara pula, jadi untuk ketemuan waktu itu sama sekali ga susah.

'Mba-Mba itu', ada 2 orang : Mba Icha dan Mba Iren. Mereka berdua orang Manado tapi sama kaya gw, merantau ke Jakarta. Udah ketemu mereka sejak di bandara Jakarta, tapi baru ngobrol pas di bandara Ho Chi Minh.

'Seorang Pria' (hahaha), namanya Randy. Gw juga kenal lewat Couchsurfing. Kirain orang Banten, eh ternyata sama-sama 'urang awak'. Akhirnya gw panggil Uda. Jadi sebelum berangkat gw udah sempet komunikasi duluan sama dia dan kebetulan dia juga lagi di Vietnam (waktu itu katanya mau tes PNS Vietnam-what???) akhirnya kami janjian buat meet up.

Plus gw. Jadi udah lengkap ya ada 5 orang.

Begitu Grab kami tiba, kami langsung naik dan menuju pusat kota Ho Chi Minh. Suasananya ga terlalu beda dengan di Jakarta, cuma stir mobil disana ada di sebelah kiri. Banyak mobil dan motor juga, tapi pas kemarin gw disana ga sempet mengalami macet. Begitu sampai di tujuan, kami jalan kaki sedikit muter-muter cari tempat makan hingga akhirnya tibalah di sebuah cafe kecil (tapi rame) di pinggir jalan. I told Quang before that me and the team would like to try something very Vietnamese (other than the coffee). So Quang finally took us to the cafe to try Vietnamese Pizza (Pizza Vietnam), which by the way is delicioussss! 


Pizza Vietnam Roll dan Biasa + Lemongrass Tea (so fresh!)

Pas banget Quang ngajakin kami kesana, karena menunya juga bukan menu makanan berat, tempatnya juga banyak anak-anak muda, nyantai gitu, berasa jadi anak gaul Ho Chi Minh lah hahahaha. Btw ini porsi yang kami pesan sebelum Uda Randy datang. Begitu dia datang, kami pesan satu lagi Vietnamese Pizza-nya. Dan ada satu hal unik yang terjadi disana. Biasanya kalau di cafe/restoran yang ada di Jakarta (Indonesia pada umumnya lah), setiap selesai makan begitu ada peralatan kotor diatas meja, maka waiter/waitress-nya akan menawarkan diri untuk mengangkat piring-piring kotor itu. Atau kalaupun kita pesan menu tambahan, mereka juga akan beresin peralatan yang kotor dulu baru kemudian makanan baru ditaruh diatas meja, iya kan?

Tapi bukan itu yang terjadi disana.

Pizza Vietnam kami yang ketiga

Ketika makanan baru datang, bukannya mengangkut piring yang udah kotor, tapi waiter-nya malah menumpuk makanan baru diatas piring kotor tadi. Kaget juga sih soalnya gw udah minta mereka buat ngangkut piring kotor itu tapi mungkin hal kaya gitu udah lazim disana. I'm not saying that it's wrong (cause it's just a matter of cultural thing, I guess) but it was a little bit odd for me tho. Ga cuma gw yang kaget ternyata, all of us were except Quang (obviously -_-). Tapi unik sih, bayangin kalo misalnya kita pesan 7 porsi, berarti mereka akan menumpuk satu piring makanan diatas 6 piring kotor dong? Atau kalo misalnya kita lagi rame-rame sama temen-temen, ada 4 orang, dan masing-masing pesan 3 menu makanan, berarti ada 12 piring, it means akan ada 4 tumpukan masing-masing 1 piring bersih diatas 2 piring kotor. Is the math right?

Hahaha au ah, ga usah dipikirin.

Selesai makan dan puas cerita-cerita, kami lanjut touristing-nya. Quang berinisiatif untuk pesan Grab lagi dan kami diajak ke central sekitar CBD (Central Business District)-nya Ho Chi Minh. Satu hal yang gw suka disana, meskipun banyak mobil dan motor kaya di Jakarta, tapi suasana disana ga bising kaya di Jakarta. Ga ada ribut suara klakson dan semua orang berkendara nyantai. Begitu tiba di tujuan, kami turun dan langsung jalan kaki lagi. Dan kami langsung tiba di area mirip Kota Tua yang ada di Jakarta (kalo di Eropa biasanya disebut 'Square'). Ada gereja dan Kantor Pos dengan eksterior gedung ala-ala Eropa gitu. Btw kantor pos-nya gede dan bagus banget (untuk ukuran kantor pos yah). Better than Kantor Pos yang di Kota Tua sih menurut gw.

Buu Dien Saigon "Central Post Office"

Ketika lagi ambil foto ini, persis didepan kami ada beberapa ABG-nya Ho Chi Minh lagi nongkrong-nongkrong jadi kami minta salah satu dari mereka untuk jadi relawan fotografer kami hehe. Coba perhatikan lagi fotonya, itu yang paling kiri adalah gw. Disamping gw adalah Uda Randy, Mba Icha yang ditengah, disampingnya adalah Quang, dan yang paling kanan itu Mba Iren. Mestinya, Uda Randy ga bawa tas merah itu, dan Quang juga ga bawa tas coklat itu. Tapi, memang karena kebaikan hati mereka (they really are nice guys, really), mereka nawarin buat bantuin gw bawain tas-tas itu.

Yes, those are my bags. Paperbag merah yang di Uda Randy dan tas coklat yang ada di Quang adalah barang-barang gw. Hahaha. Dasar rempong, ribet (gw). And it felt so good to get help from people you've never met before yet they perfectly knew that you were in uneasy situation, especially with baggages lol). Alhamdulillah yah, rezeki anak sholehah.

Girls team

Selesai foto-foto, Quang mengajak kami lanjut jalan kaki ke 'Walking Street'. Gw sempet nanya ke Quang gini, "Quang, why is it named as Walking Street?". Trus Quang jawab "Because people are walking here."

Okay. Nice explanation. 
-_-

Sampe disana, ternyata tempatnya bagus juga, semacam alun-alun gitu, ada taman dan pertokoan serta cafe-cafe. Menurut gw sih mirip Time's Square di New York (sotoyyy). Trus ada air mancurnya juga. Waktu itu suasananya rame, mungkin karena lagi Jumat malam jadi orang-orang pada merayakan TGIF. Bahkan anak-anak pun sampe ada yang mandi di air mancur itu hahaha.

Walking Street, Saigon

Ternyata bahagia itu sederhana ya. Cukup main air aja bisa tertawa lepas dan bahagia, kaya anak-anak itu. Kita aja yang bikin ribet, merasa bahwa kalau ga bercinta trus ga bahagia (ceramah). Okay, move on now. 

Jadi ceritanya anak ini lagi bengong karena lagi asik-asik main air tiba-tiba
air mancurnya mati, eh trus ga lama nyala lagi.
#CUTE

Asyik menikmati suasana, people watching, dan menghirup udara Viet Nam, ga terasa udah jam 9.30 malam. Gw minta Quang buat nganterin kami balik ke bandara, karena penerbangan gw ke London jam 12 malam dan gw ga mau telat, I have to be at the airport by 10pm. Begitu Grab kami dateng, langsung naik dan meluncur ke bandara. Memang pertemuan yang singkat, tapi buat gw seru banget dan unforgettable. Memang gw udah rencanain ketemu Quang, tapi ketemu Mba Icha, Mba Iren, dan Uda Randy adalah bonus. Double jackpot malah. Karena itu pengalaman pertama gw di negeri orang, jadi ketemu orang sekampung disana itu sesuatu yang sangat berharga sekali.

Mba Icha, Mba Iren, dan Uda Randy, if you're reading this, I want you guys to know that you all are awesome! I like how we did first meet in another country. Thank you for being such a fun and joyful company while I was there :) :) :) 

Sebelum gw check in, untung Uda Randy sempet-sempetin wefie bareng. Here's the last memory of our togetherness in Ho Chi Minh :

'Twas a short outing but so fun and joyful! Thank you again :)
ps. Quang is still holding my bag tho. 

I love to keep in touch with them, cause they are lovely. And I want you too! 
Get connected with them : 
Berteman dengan Quang melalui Facebook disini 
Follow instagram Mba Icha disini 
Follow Mba Iren disini
Follow Uda Randy disini

Thursday, 12 October 2017

London-Escape : Officially Abroad

And here I am right now, window sitting on a plane to London. No more nervous, no more butterflies in the stomach. It was all gone when I entered the flight to Vietnam instantly for transit. Okay so currently this plane is flying above Turkmenistan, still 3,195 miles until London. And one thing for sure, this plane is getting away from the sun, cause it should be 7.15 am already in Jakarta, and I have been flying for 7 hours and haven’t found the sunlight.


The layover in Vietnam was beyond my expectation. Thanks to Couchsurfing (again), I met a Viet guy who offered me for a short tour outside airport and apparently he works in the airport itself. And I also met 2 Indonesian girls who was sitting in front of me inside the airplane but we just got the nerve to converse once we landed in Vietnam, and one of the girls has the same obsession with me : Classic English Romance. Never thought I could meet anyone that shares the same obsession with me but I finally did.

Now I’m questioning my decision for choosing the window seat for a long flight, was I doing a good job? Cause I’m in the need to go the toilet now but there is cute old couple beside me who sleep so tight and I don’t feel like want to wake them up. All thirsty, and my face is quite dry now.


On a plane to London
7.20 am, October 7th 2017 (Indonesian time)


Tuesday, 3 October 2017

Pre London-Escape : Butterflies in The Stomach


Call me extra, but I got butterflies in my stomach already though it's still 3 days left to my departure. How wouldn't I? This will be my first time going abroad in the past 12 years and in my adult age. And thinking that I'm about to meet someone whom I've been admiring for the past 12 months, it got my stomach twisted even more. You know that feeling, right? 

It's like... 
Seeing a beautiful place that you've been only seeing in the picture. Or like digging up the soils and found a gold underneath. Or even worse, like performing your favorite poem or speech that you've been training in front of mirror for a very long time. Now that is not applicable if you're already are a performer. 

Yeah anyway, that's just how it is. This is actually so much fun having the moods got upside down while you have to stay clear-minded because other shits can't just finish themselves. So hard work is all on deck. 

One more thing, I am confused on should I or should I not bringing a small rice cooker there since I'm a rice eater? I will bring mom's rendang, definitely, so I need rice. Thought I may can just cook it there :/

Friday, 29 September 2017

Pre London-Escape : Anxiety

It's a week left before my departure and I haven't got any place to stay yet. Ugh! Not that I don't put out any effort in looking for any accommodation, which by the way I did, and have been, but nothing has ring the bell for me. 

Since I'm a verified Couchsurfing user (proudly to say that), so of course Couchsurfing would be my very first option of my accommodation there. I have sent, 6 requests to female hosts, and none of them accepted me. Three of them already declined my request, well actually four, yet still hearing nothing from the others. I also got a few offers tho, actually, but all from male hosts. Unfortunately, I don't think I would give it any consideration. Besides of religious issue, I worry about my safety too. And my freedom to open hair inside the house as I'm a hijabi. Hahaha. Yeah that is important tho. 

If by mid next week I still haven't found any host on Couchsurfing yet, then AirBnB will be my second option. And Wisma Indonesia will be the third, as it is a bit pricey, according to my pocket. 

Well yeah, let's see then. I'll keep my blog updated about it. Wish me luck! 

Monday, 18 September 2017

S E N J A : I, am suffering.



My heart seeks you
In all the possibilities that could crawl your presence

I swear, 
I'm suffering 
From not talking to you



Friday, 25 August 2017

Pertama Kali Bikin UK Visa Langsung Approved! (Mengurus UK Visa 2017)


Alhamdulillah...

Gw seneng banget karena akhirnya UK Visa gw jadi. Inshaa Allah gw akan ke UK bulan Oktober ini dan akhirnya penantian panjang gw nungguin tuh visa selama 2 minggu kelar juga. Banyak yang bilang kalau bikin UK Visa itu ibarat gambling, kita ga tau pasti akan di approve atau di reject. Tapi menurut pengalaman gw, gw bisa ambil kesimpulan bahwa sebenernya pihak British Embassy di Manila sono (yang jadi pusat UK Visa Application Centre di South East Asia) hanya membutuhkan data dan informasi yang jelas tentang siapa kita di negara Indonesia ini dan apa yang akan kita lakuin selama di UK. Dan berhubung gw banyak dapet informasi tentang UK Visa ini dari blog-blog traveller lokal, so I will do the same and share my experience on how did I apply for this holy UK Visa. 

First of all, gw hanya akan ngebahas pengalaman pribadi gw dalam membuat UK Visa ini biar lebih fokus dan on point. Brief introduction about me, nama gw Fathyah, usia 22 tahun, seorang karyawan BUMN di Jakarta dan belum menikah. Jenis visa yang gw ajukan yaitu Kategori C Visit Visa with Multiple Entry. Visa visit tersebut berlaku selama 6 bulan dan selama itu kita bebas keluar masuk UK dengan ketentuan tidak melebihi period of stay (periode menetap). Dan visa gw sendiri Alhamdulillah dapet stay period selama 180 hari aka 6 bulan full!!! Yasss! Bisa bolak balik nih gw ke London selama 6 bulan kedepan asekkkk (kalo ada duitnya aamiin).

Secondly, sebelum mengajukan aplikasi visa harus dan mesti banget temen-temen buat research apa aja yang diperlukan dalam proses pengajuannya. Selama 4 bulan gw sibuk baca-baca blog lokal tentang pengalaman penulisnya dalam mengurus UK Visa. Setiap gw baca setiap itu juga gw deg-deg syur takut kalo-kalo visa gw ga akan di approve nantinya. Tapi overall gw udah siapin timeline rencana pengajuan visanya sih jadi kalo seandainya dalam pengajuan pertama gw gagal, gw masih spare 1 bulan sampe tanggal keberangkatan gw untuk ngajuin lagi yang kedua kali. Gw juga baca beberapa blog tentang pengalaman mereka yang visanya ditolak meski uang tabungan mereka mencapai 3 digit (what??)

Thirdly, persiapan dokuman persyaratan. Untuk yang satu ini gw lakuin dengan lapang dada dan ikhlas sejak 1 bulan sebelum appointment di VFS Global Kuningan City. Gw ga mau nyiapin berkas dengan terburu-buru yang nantinya malah terjadi kesalahan data dan harus ngurus ulang (capcay deh!) dan jadinya makan waktu dan buang-buang energi kita ajah. Jadi dokumen-dokumen yang gw persiapkan adalah :

1. Fotokopi KTP, KK, dan Akte Lahir (yang bahasa Indonesia). Berhubung gw belum menikah jadi gw ga menyerahkan buku nikah gw (yang belum ada). Tapi kalo lo udah married kudu melampirkan inih.

2. KTP, KK, dan Akte Lahir yang udah TRANSLATED. Bukan fotokopian ya, gw kasih yang aslinya. Yang di kertas A4 dan ada cap penerjemahnya. Biaya translate-nya Rp 100,000 per lembar silahkan langsung hubungi ke e-mail worldnet.andrew@gmail.com

3. Slip gaji 6 bulan terakhir (gw kasih yang asli karena kalo ntar butuh bisa minta lagi ke bagian SDM di kantor gw ehehe.

4. Surat rekomendasi dari kantor dalam bahasa inggris, begini contohnya :



5. Referensi dari Bank atau Bank reference (gw pake Bank Mandiri) bayar Rp 100,000 begini penampakannya :


Oh ya, ketika meminta Bank Reference jangan lupa meminta pihak bank untuk menyebutkan nominal tabungan dalam mata uang GBP. Gw ga tau sebenernya ini harus atau ga tapi menurut gw ga ada salahnya disebutkan biar kita terkesan sebagai Most Valuable Customer-nya bank tersebut wkwkwk.

6. Tiket pesawat PP yang udah issued. Ada yang bilang kalo ngajuin visa sebenernya bisa hanya dengan melampirkan bukti booking-an tiketnya aja tapi berhubung gw udah dapet tiket duluan karena ga mau gambling nasib UK Visa gw, jadi gw lampirkan yang issued nya aja. Gw naik Vietnam Airlines rute Jakarta-Ho Chi Minh-London. Kemarin pas mau collect passport di VFS Global gw sempet ngobrol sama salah satu mba-mba yang pernah belajar di UK, dia juga mengajukan visit visa tapi tanpa tiket pesawat yang issued dan tetep di approve kok. Jadi dia hanya melampirkan bukti booking-an pesawat yang dikirim ke e-mail dan tetep tembus. Tapi saran gw buat yang baru pertama kali mengajukan, hmm cobalah dipikirkan kembali.

7. Bukti pemesanan hotel. Ralat: Informasi yang jelas mengenai alamat tempat kita stay di UK nanti. Nah ini yang menurut gw menarik karena gw gak melampirkan bookingan hotelnya. Gw udah coba kontak owner Wisma Indonesia London untuk minta bukti bookingannya tapi beliau bilang lewat whatsapp kalau kita mau stay disana ga perlu in advance booking, tinggal dateng kesana aja dan check in same day (tergantung ketersediaan kamar). Jadi kemarin gw tulis di formulir dan di cover letter bahwa gw akan stay di Wisma Indonesia London (www.wismaindonesia.com) karena gw ga nemu website untuk booking hotel yang ga perlu bayar fee sedikitpun akhirnya gw hanya melampirkan print out halaman website si Wisma Indonesia ini. Dan dari beberapa artikel yang gw baca, selama ini kalo kita tulis alamat stay kita di UK pake alamat Wisma Indonesia ini mostly aplikasi visanya di approve. Tapi sejujurnya sampai detik ini gw belum tau mau nginep dimana nanti di London. 

Temen-temen yang berniat mau nyari host lewat Couchsurfing, dalam pengajuan visa lebih baik jangan disebutkan kalo lo bakal numpang di rumah temen. Keliatan kere dan lo harus melampirkan dokumen lebih banyak lagi mulai dari fotokopi passport temen lo (atau kalau dia orang Indonesia harus melampirkan fotokopian visanya), invitation letter, dan rekening tabungan dia. Gw sih ogah. Mwehehehehe. Lo tinggal tulis aja di formulir visanya bahwa lo akan nginap di Wisma Indonesia (like what I did) dan lo tulis alamat lengkapnya niscaya visa lo akan di approve. 

8. Rekening Koran (Bank Statement) selama 3 bulan terakhir. Nah.... Ini dia nih yang gw yakin jadi primadona pertanyaan kita semua. Berapa banyak sih duit yang mesti gw punya di tabungan supaya visa gw approved??? Berapa mas? Jawab akuh berapah???? Jawabannya adalah gw juga ga tau. Gw pribadi juga ga nyampe 50 juta direkening dan Alhamdulillah lolos. Dan ternyata ga mesti uang yang ada itu harus mengendap selama 3 bulan. Di rekening gw kemarin di bulan pertama cuma ada sepertiga dananya, trus bulan kedua setengahnya, dan bulan ketiga baru gw dapet full and that's completely fine! Asalkan transaksi lo di rekening tersebut jelas perputaran debit dan kreditnya, itu ga jadi masalah.

Menurut gw nih ya, sebenernya jumlah duit kita di tabungan harus cukup untuk meng-cover biaya perjalanan kita mulai dari berangkat, selama di UK, dan sampai pulang lagi ke Indonesia. Ga masalah kalo lo cuma punya 30 juta tapi kalo emang dalam itinerary lo bisa menjabarkan yang 30 juta itu mau dipake untuk apa dan kemana aja gw rasa aman. Semakin banyak uang di tabungan lo ga bisa menjamin bahwa visa lo akan di approve. Yang penting pastikan data-data pribadi lo valid dan akurat niscaya akan mulus kedepannya. 

9. Fotokopi passport lama dan baru. 

10. Passport terbaru yang asli (buat ditempel visa donggg).

11. Itinerary perjalanan selama di UK. Gw bikin yang simple aja kaya gini : 


Sebenernya gw berniat untuk mengunjungi kota-kota lain seperti Wales, Salisbury dan mungkin juga ke Edinburgh (Scotland). Tapi gw pengen bikin itinerary yang simple jadi di formulir pun gw sebutkan bahwa gw cuma akan stay di London doang (ehehehe). Yah semuanya agar lebih gampang visanya jadi. #demi 

Dan juga tempat-tempat yang akan gw kunjungi sesuai itinerary gw semuanya adalah free pass attraction hehe kenapa? Supaya cost yang ditulis di formulir nantinya ga terlalu besar (walaupun kenyataannya gw bahkan akan pergi ke kota-kota lain).

12. Pas foto khusus untuk visa UK ukuran 4,5 cm x 3,5 cm dengan fokus wajah 80%. Sampe di VFS Global ternyata foto gw dikembaliin. Damn! Padahal pas foto gw udah cakep malah ga dipake. Jadi gw rasa untuk pengajuan visa sekarang pas foto ini ga akan diminta. 

13. Surat pengantar/cover letter (optional). Gw juga sebelumnya ga kepikiran untuk bikin cover letter sama sekali tapi seorang temen dari Couchsurfing yang kebetulan orang London kasih tau gw untuk melampirkan cover letter ini. Memang dokumen ini ga diminta pihak embassy tapi kan petugas visa di Manila sana kan juga manusia biasa dan (gw yakin) mereka pasti akan menghargai usaha kita untuk mendapatkan UK Visa ini dilihat dari dokumen-dokumen yang kita lampirkan. Maka dari itu, gw sangat menyarankan teman-teman yang akan apply visa UK untuk membuat cover letter ini sesuai dengan yang udah gw lakuin : ditulis tangan. Harapan gw ketika gw tulis cover letter ini adalah semoga orang embassy di Manila sono bisa terkesan dengan tulisan tangan gw yang sangat indah dan dengan serta merta menyetujui visa gw. And I think it worked out well, tho. Gw lupa scan hasil tulisan tangan gw tapi kalian bisa pake draft gw kaya gini : 



Dalam membuat cover letter jangan lupa untuk menulis kenapa lo pergi ke UK (dalam rangka liburan atau business) dan berapa lama lo akan stay disana. Trus juga lo tulis alasan kenapa lo pengen ke UK, dan apa aja rencana lo selama disana (itinerary). Gw tulis di cover letter alasan gw pengen pergi ke UK adalah karena itu merupakan mimpi gw semenjak childhood (basic sih tapi it worked) dan juga karena gw sekarang ngajar Bahasa Inggris part-time (private english teacher) jadi gw pengen meningkatkan kemampuan speaking bahasa inggris gw ke level yang lebih tinggi dan London adalah tempat terbaik untuk memulai itu semua. 

14. Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak tahun 2016 (optional). Yap ini emang ga diminta sama sekali tapi gw cuma inisiatif aja siapa tau bisa men-support data dan informasi mengenai keberadaan gw di negara ini.

15. Print-out formulir pengajuan visa yang sudah ditandatangani. Yang ini jangan sampai lupa yaaa guys! Gw males ngebahas formulir online-nya disini karena akan panjaaaang banget jadi kalian bisa cek toko sebelah yah buat ini. Pokoknya ngisi formulir online-nya diisi sebaik mungkin, apa adanya dan jangan ngasal. Gw sendiri butuh waktu 1 bulan sejak bikin akunnya sampe formulirnya keisi semua ehehehe #procrastination.




Nah setelah semua berkas siap, dibuat, disusun, dan disimpan serapih mungkin dalam stopmap barulah gw bikin appointment untuk tanggal 8 Agustus 2017 di VFS Global Kuningan City. Jangan lupa membawa print out bukti appointment kita di VFS Global yah! 

Begitu sampe di VFS Global Kuningan City, gw harus lewat metal detector dan tas gw diperiksa security baru kemudian masuk kedalam kantor VFS Global-nya. Begitu sampe disana harus fokus ya guys cari yang visa section khusus UK, jangan ke yang lain. Karena disana dalam satu ruangan luas ada section untuk UK, Australia, New Zealand dan beberapa negara Schengen. Nanti security akan ngasih nomor antrian dan begitu masuk tinggal duduk manis nunggu nomor antrian dipanggil. Ini dia penampakan UK Visa section-nya : 

Sejujurnya setelah gw ambil foto ini langsung ketahuan ama security dan seketika itu doi langsung datangin gw dan minta gw buat hapus nih foto. Beruntung gw pake iPhone, jadi setelah delete photo kan masih kesimpan di folder 'Recently Deleted' ehehehe. Plis jangan tiru gw, gw terlalu excited sampe kaya gini. 


Di UK section sendiri ada 8 counter untuk application submission-nya, 1 counter untuk passport collection, dan 3 ruangan biometrik. Begitu nomor gw dipanggil gw langsung ke counter-nya dan langsung kasih berkas gw dan paspor terbaru gw yang asli. Menurut gw petugasnya cukup profesional walaupun masih muda-muda dan ketika giliran gw pun mereka sama sekali ga banyak ngomong. Gw uda persiapan bawa berkas asli (KK, Akte, Ijazah, dll yang mungkin perlu) tapi ternyata nyampe disana ga diminta tunjukkin sama sekali. Begitu gw kasih berkas, mereka input nomor seri pendaftaran gw, trus berkas gw dibungkus, ditempel barcode (sesuai nomor seri pendaftaran) dan dimasukkan kedalam map besar kaya gini : 




Nah setelah ini, tinggal menunggu dipanggil buat rekam data di ruang biometrik dan sekalian foto. Makanya pastikan muka lo ga kucel ketika datang. Selama di ruang biometrik prosesnya cepet banget. Gw masuk, disuruh duduk, kasih berkas, rekam sidik jari dan foto. Petugasnya sempet nanya sedikit siapa nama panjang gw dan tanggal lahir gw (kaya ngetes informasi kita gitu) dan gak ada wawancara sama sekali. Setelah foto gw udah boleh keluar dan langsung pulang. Lama waktu pemrosesan visa UK yang visit adalah 3 minggu, bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kebanyakan  sih mereka bisa selesaikan lebih cepet dari itu.

Tibalah dua minggu terpanjang dalam hidup gw. Gw deg-degan banget nungguin hasil proses aplikasi visa gw karena kemungkinan untuk ga di-approve ada dan bisa jadi karena (1) duit gw ga nyampe 50 juta; dan (2) gw ga ngelampirin asuransi perjalan, bukan karena ga mau tapi emang gw ga beli/ga ada. Di persyaratan aplikasi visa sesuai yang tertulis di website ini emang ga diminta asuransi perjalanan. Tapi kalau visa Schengen, lo harus lampirin asuransi perjalan yang sesuai dengan coverage minimal yang ditentukan. Gw selalu buka e-mail tiap hari dan tiap jam gw tungguin email dari admin VFS Global berharap dapet pemberitahuan bahwa visa gw udah jadi  tapi dua minggu berlalu dan tetep ga ada apa-apa. Oke, gw ambil kemungkinannya adalah paling lama waktu pemrosesan visa buat mereka adalah 3 minggu. Jadi gw mesti bersabar for another week. 

Tiba-tiba pada tanggal 22 Agustus 2017 pas gw baru sampe kantor gw buka e-mail (udah ga berharap lagi) dan ada e-mail pemberitahuan kaya gini :


Yang ada dipikiran gw ketika baca e-mail ini adalah berkas formulir gw baru sampe di Manila dan baru akan diproses. Karena emang ga jelas banget kan email ini (gw pikir awalnya gitu). Jadi setelah gw baca email ini gw cuekin aja karena gw makin kecewa kenapa berkas gw baru sampe di Manila padahal udah 2 minggu. Trus siangnya gw masih penasaran gw baca-baca lagi blog-blog lokal tentang pengajuan Visa UK terbaru tahun 2017 dan gw baca lagi e-mail yang tadi. Sampe setelah gw baca ulang 4 kali baru gw dapet hidayah bahwa sebenernya visa gw udah selesai diproses (masih belum ketahuan di approve atau di reject) dan udah bisa diambil. Karena gw udah ga tahan pengen buru-buru tau hasilnya, akhirnya sore itu juga gw langsung cabut ke Kuningan City buat menjemput buku passport tercinta gw. FYI ya guys kalo mau ambil passport individu di VFS Global Kuningan City bisa dilakukan hari Senin-Jumat mulai dari jam 15.00 - 17.00 WIB.

Sampe di VFS Global Kuningan City gw langsung masuk ambil nomor antrian dan nunggu dipanggil (seperti saat submit berkas). Gw deg-deg syur duduk nungguin disitu jadi gw ajak mba-mba disebelah gw ngobrol. Begitu nomor gw dipanggil gw ke counter 9 dan gw langsung serahin struk nomor seri pendaftaran gw dan nomor antrian. Gw udah siap dan jaga-jaga kalo emang amplop yang gw terima ukurannya gede, artinya ga lolos karena biasanya kalo visa kita ga di approve akan dilampirkan kertas berisi keterangan kenapa visa kita ga lolos. Tapi kalo amplopnya berukuran kecil (yah kira-kira cuma muat buat 1 passport doang) Inshaa Allah itu pertanda baik. Dan begitu amplop gw dikasih, inilah yang gw terima :


Tampak depan

Tampak belakang (ga ada apa-apanya hehehe)


Dari ukuran amplop sih udah bisa bikin gw lega karena pas gw raba-raba cuma ada passport gw doang. Tapi gw sengaja tahan-tahan ga langsung buka disitu. Gw tunggu sampe waktu shalat Maghrib di Kuningan City, pas di musholla baru gw buka dan jrengggggg :

Alhamdulillah jadi juga gw berangkat ke UK. London, I am coming!!!